IMPLEMENTASI PADA PROSES PEMBELAJARAN BERDASARKAN TUNTUTAN PERUBAHAN TERHADAP DUNIA PENDIDIKAN KHUSUSNYA AKAFARMA
Pendidikan merupakan pengembangan kemampuan dan jatidiri peserta didik sebagai wujud kepribadian yang utuh melalui program pengajaran yang diarahkan melalui kurikulum program studinya. Kurikulum yang digunakan adalah kurikulum yang disesuaikan dengan karakteristik institusi dan permintaan dari user. Akafarma yang memberikan kurikulum yang mencetak tenaga analis farmasi dan makanan. Fenomena yang terjadi keluhan para pengguna lulusan dari perguruan tinggi sekarang secara umum “payah”, hal ini disebabkan karena beberapa hal antara lain :
- Tidak tangguh, cepat bosan, kutu loncat
- Tidak dapat bekerja sama dengan tim
- Tidak mememiliki rasa empati yang tinggi
- Kurang jujur dan tidak memiliki integritas
- Kurang mampu berkomunikasi
- Kurang inisiatif dalam pekerjaan, termasuk kurang berinisiatif untuk bertanya
- Kurang penguasaan IT
- Kurang berani bermimpi (membuat dreams), focus pada kendala bukan pada dreams
- Kurang memiliki rasa humor
Sementara di dunia kerja tidak hanya menuntut kemampuan di bidang keilmuan (hard skill) saja tapi juga kemampuan soft skill.
Harapan kita, peserta didik kita mempunyai kemampuan hard skill dan soft skill sehingga menghasilkan peserta didik yang cerdas, kompetetif adaptable terhadap perubahan dan kebutuhan dari stakeholder. Tidak hanya mempunyai kemampuan akademik yang bagus tapi juga mempunyai akhlak mulia, prinsip, peka/peduli terhadap lingkungan.
Perubahan yang terjadi sekarang ini karena adanya perubahan kondisi global dan perubahan paradigma. Kondisi global berupa persaingan, persyaratan kerja dan perubahan orientasi yang nantinya mengalami perubahan kompetensi lulusan, sedangkan perubahan paradigma menyangkut pengetahuan, belajar dan mengajar yang nantinya mengalami perubahan kegiatan akademik dan kemahasiswaan . Dari perubahan tersebut nantinya akan terjadi perubahan prilaku dan pembelajaran dan secara langsung berdampak pada mutu lulusan.
Untuk mendapatkan peserta didik yang cerdas, kompetetif adaptable terhadap perubahan dan kebutuhan dari stakeholder. Dan Tidak hanya mempunyai kemampuan akademik yang bagus tapi juga mempunyai akhlak mulia, berprinsip, peka/peduli terhadap lingkungan, ada beberapa hal yang harus dimiliki para peserta didik yaitu ;
1. Penguasaan Pengetahuan dan Ketrampilan
2. Attitude
Ad. 1 Penguasaan Pengetahuan dan Ketrampilan (Hard Skill)
Penguasaan pengetahuan dan ketrampilan tidak terlepas oleh kurikulum dan sistem pembelajaran. Kurikulum di AKAFARMA menitik beratkan pada pengetahuan dan ketrampilan seorang analis untuk industri kefarmasian, makanan dan minuman dan tidak menutup kemungkinan terdapat muatan local supaya mereka bisa melakukan dan melaksanakan usaha-usaha produksi makanan dan minuman. Kurikulum yang baik jika dalam kurun waktu tertentu/ secara periodic dilakukan evaluasi/peninjauan kembali berdasarkan dari masukan stakeholder, sehingga kurikulum yang dilaksanakan tidak statis tapi dinamis .
Pada system pembelajarannya untuk mendapatkan pengetahuan dan ketrampilan yang lebih maka diperlukan beberapa aspek :
a. Rencana pembelajaran yang mengacu pada pola pembelajaran konstruktivistik
Pembentukan pengetahuan menurut konstruktivistik memandang peserta didik aktif menciptakan struktur-struktur kognitif dalam interaksinya dengan lingkungan. Dengan bantuan struktur kognitifnya ini, peserta menyusun pengertian realitasnya. Interaksi kognitif akan terjadi sejauh realitas tersebut disusun melalui struktur kognitif yang diciptakan oleh peserta didik itu sendiri. Struktur kognitif senantiasa harus diubah dan disesuaikan berdasarkan tuntutan lingkungan dan organisme yang sedang berubah. Proses penyesuaian diri terjadi secara terus menerus melalui proses rekonstruksi.
Yang terpenting dalam teori konstruktivisme adalah bahwa dalam proses pembelajaran, si belajarlah yang harus mendapatkan penekanan. Merekalah yang harus aktif mengembangkan pengetahuan mereka, bukan pembelajar atau orang lain. Mereka yang harus bertanggung jawab terhadap hasil belajarnya. Penekanan belajar siswa secara aktif ini perlu dikembangkan. Kreativitas dan keaktifan siswa akan membantu mereka untuk berdiri sendiri dalam kehidupan kognitif siswa.
Belajar lebih diarahkan pada experimental learning yaitu merupakan adaptasi kemanusiaan berdasarkan pengalaman konkrit di laboratorium, diskusi dengan teman sekelas, yang kemudian dikontemplasikan dan dijadikan ide dan pengembangan konsep baru. Karenanya aksentuasi dari mendidik dan mengajar tidak terfokus pada si pendidik melainkan pada pebelajar.
Beberapa hal yang mendapat perhatian pembelajaran konstruktivistik, yaitu: (1) mengutamakan pembelajaran yang bersifat nyata dalam kontek yang relevan, (2) mengutamakan proses, (3) menanamkan pembelajran dalam konteks pengalaman social, (4) pembelajaran dilakukan dalam upaya mengkonstruksi pengalaman (Pranata, http://puslit.petra.ac.id/journals/interior/.).
Dengan pola pembelajaran konstruktivistik peserta didik akan terbiasa kemandiriannya, komunikasinya, kretivitasnya, mengadaptasikan dan mengorganisasikan diri dengan lingkungan baru.
b. Kegiatan pembelajaran sesuai rencana pembelajaran
Kegiatan pembelajaran yang berasarkan pola pembelajaran konstruktivistik hendaknya direncanakan sejak awal, dan disampaikan ke peserta didik sehingga antara peserta didik dan fasilitator sudah ada komitmen di awal proses pembelajarannya
Hal ini akan membiasakan para peserta didik sudah mempunyai rencana diawal (program) sehingga arah dan tujuannya yang akan dilakukan akan jelas
c. Monitoring dan evaluasi
Monitoring dan evaluasi perlu dilakukan untuk melihat apa yang telah kita lakukan di dalam proses pembelajaran sesuai dengan rencana pembelajaran sehingga nantinya ada feedback yang akan kita gunakan untuk melangkah kedepannya.
d. Pengembangan SDM untuk mendukung system pembelajaran
Untuk pengembangan SDM tidak harus dengan jalur formal, dengan jalur informalpun untuk iri bias dilakukan. Dengan prinsip belajar sepanjang hayat maka kita akan selalu berusaha mendapatkan ilmu denga lebih, yaitu dengan cara membiasakan budaya membaca. Membaca yang dilakukan bisa melalui buku-buku langsung ataupun melalui media elektronik. Harapannya kalau sudah terbiasa membaca akan terwujud budaya menulis, bisa berupa artikel-artikel ataupun berupa karya tulis ilmiah, sehingga akan membuka wawasan yang lebih.
e. Penyediaan sarana dan prasarana
Kemajuan teknologi komunikasi dan informasi yang berkembang begitu pesat pada era globalisasi, setidaknya di dalam proses pembelajaran memaksimalkan pemanfaatan perangkat audiovisual
f. Penguasan IT dan bahasa Internasional
Untuk mendapatkan manusia yang adaptable dia akan membuka diri terhadap informasi-informasi yag terjadi, informasi yang begitu cepat dapat melalui penguasaan IT akan lebih baik didukung oleh bahasa internasional.
Di dalam proses pembelajaran untuk memotivasi peserta didik di dalam penguasaan IT bisa dilakukan dengan cara fasilitator membuka blog (karna gratis) di dalam komunikasi dengan peserta didik, mau tidak mau peserta didik juga akan membuka blog juga, sehingga nantinya ada komunikasi dua arah dari peserta didik dan fasilitator lewat blog tersebut.
g. Adanya kegiatan study club
Kegiatan study club selain memebekali peserta didik dengan kerganisasian juga bidang-bidang ilmu yang dia sukai, nantinya ada suatu pendalam materi dari masing-masing bidang study. Kegiatan berupa kajian-kajian materi, moving class dengan intansi terkait atau industry farmasi, tradisional, makanan dan minuman
h. Memotivasi adanya seminar dikalangan intern dapat berupa karya tulis ilmiah atau hasil kajian study club
Budaya menulis jika sudah digalakkan maka akan menghasilkan karya-karya yang nantinya diseminarkan dikalangan akademik (fasilitator dan peserta didik) sehingga akan menambah pengetahuan dan informasi yang mungkin sebelumnya belum diketahui. Atau bisa juga hasil-hasil dari study club.
i. Kerja sama dengan perguruan tinggi lain, user dalam pengembangan SDM terkait dengan system pembelajaran
Tidak bisa dipungkiri bahwa pola pembelajaran yang terjadi selalu berubah-ubah sesuai dengan perkembangan yang ada. Selain kita bisa memanfatakan IT tidak menutup kemungkinan adanya jalinan kerjasama dengan perguruan tinggi yang lain sehingga kita dapat sharing apa saja yang munkin masih kurang yang kita lakukan. Kerjasama bisa melalui cooperating, benchmarking, networking.
Kerja sama dengan user dalam rangka meng-update kurikulum kita sehingga kurikulum kita selalu mengikuti perkembangan yang ada kalau memang di dalam kurikulum inti tidak ada bisa dibuat muatan local sebagai penunjangnya.
Ad. 2 Attitute (Soft skill)
Peserta didik yang dihasilkan tidak hanya unggul dalam pengetahuan dan ketrampilan tapi juga harus dibarengi dengan akhlak mulia, berprinsip, peka/peduli terhadap lingkungan. Sehingga nantinya akan dihasilkan para peserta didik yang mempunyai etika, kemauan belajar, komitmen, motivasi, kreatif, komunikasi lisan, inisiatif, berpikir kritis, fleksibel, mandiri, dapat bekerja dengan tim, manajemen diri dan waktu, dapat mengatasi stress.
Adapun langkah-langkah yang dapat dilakukan adalah
- Dapat dimasukkan dalam mata kuliah dengan cara Hidden Curiculum
Di dalam tehnik pelaksanaan secara intrakulikuler dan tercantum dalam GPBB bahwa matakuliah Pendidikan spiritual sebanyak 3 SKS, kalau kita hitung cukup tidak cukup pasti tidak cukup. Implementasi spiritual ini meskipun tidak tercantum di dalam setiap semester harapan saya spiritual ini dimasukkan di dalam HIDDEN CURICULUM (kurikulum tersembunyi) pada setiap matakuliah yang disajikan dalam tiap semesternya. Jadi setiap matakuliah di awal perkuliahan diharapkan 5-10 menit diberikan nilai-nilai spiritual yang mungkin ada kaitannya dengan matakuliah yang bersangkutan atau hal-hal lain yang ditemukan pada saat akan berangkat ataupun pengalaman-pengalaman fasilitator yang bersangkutan atau yang lain dengan catatan hal-hal yang disampaikan sifatnya tidak menggurui peserta didik
- Diadakan pelatihan khusus tentang soft skill atau bisa dimasukkan dalam muatan local
- Melalui kegiatan UKM/ Study Club
Kegiatan UKM/Study club sebagai sarana pembelajaran keorganisasian dan mengembangkan potensi diri sesuai dengan karakter dan keinginan peserta didik, sehingga dapat menumbuhkan rasa percaya diri pada peserta didik.
- Kegiatan pengabdian masyarakat
Kegiatan pengabdian masyarakat sebagai wujud rasa peduli/peka terhadap lingkungan, juga sebagai sarana penerapan disiplin ilmu yang pernah diperoleh selama proses pembelajaran

0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda